Jumat, 06 Juni 2008

IN-dEgENG

SahABat


Sahabat. Apa sih arti dari sebuah persahabatan?? Ada yang bilang sahabat itu adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita. Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng. Tetapi salah satu sahabat saya bilang, sahabat itu adalah teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri.

Terkadang saya dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya. Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat saya yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, saya bingung jawabnya. Dari situ saya mikir, apa saya ini sahabat yang baik? Apa saya pantas disebut sahabat? Karena saya menganggap sahabat adalah orang yang bisa melihat kita dari hati ke hati, bukan karena tampang, materi, latar belakang, pendidikan dan lain-lain. Karena itu saya memang jarang menanyakan hal-hal yang berbau privacy ke sahabat-sahabat saya. Saya lebih sebagai pemberi masukan dan penerima keluh kesah sahabat-sahabat saya. Bukannya saya orang yang nggak peduli dan nggak mau tau, tapi menurut saya persahabatan bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut. Saya sudah ngerasain pahitnya persahabatan ketika saya bilang dia sahabat saya, ternyata dia hanya memanfaatkan apa yang saya punya dan lain-lain. Ketika saya sedang jatuh, dia malah meninggalkan karena merasa ga ada yang bisa diberikan oleh saya.

Ada ungkapan yang sangat menyentuh, Teman tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang manusia. Dan kita akan berasa deket dengan dia walaupun ga ketemu dan ga kontak dalam waktu yang lama. Karena pertemanan itu pada dasarnya dari ikatan hati. Ga bakal ilang walaupun dimensi jarak memisahakan kita. Kita harus mengkui bagaimanapun juga kita ga bisa menghilangkan dia dari hati kita. Dan tanpa teman, kita ga akan seperti sekarang ini.

We never can forgotten our friends

CoReTAn MahAs!sWi AkuNTansi

KuliAh AkunTanSi

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang cukup dengan memperhatikan secara saksama ketika dijelaskan, mereka sudah langsung menguasai materi yang disajikan tanpa harus belajar lagi. Ada pula Mahasiswa/i yang belajar dengan cara membaca buku berkali-kali, namun tidak menguasai materi. Ada juga yang dalam membaca buku harus mencoret dengan starbilo warna. Sampai - sampai buku yang semula putih bersih menjadi full color. Ada juga yang menggaris bawahi setiap kata penting yang ia temukan di textbook. Seolah-olah ia tidak percaya kalau seluruh baris tulisan kalimat di buku itu sudah lurus. Karena semua kalimat dalam buku yang dibaca adalah penting, maka dari awal sampai akhir buku menjadi bergaris. Yang lebih heboh lagi, adalah..... jurus baca mantra. Dengan jurus baca mantra ini mereka membaca catatan kecil secara berkali-kali. Definisi – definisi, rumus –rumus, dsb akan dibaca (diucapkan) berkali – kali dimanapun, kapanpun, .... nah, persis orang baca mantra kan! Hehehe….

Bagi Mahasiswa/i yang masih aktif kuliah mau tidak mau harus belajar. Bahkan bagi siapapun yang ingin menambah ilmunya, menambah pengetahuannya, akan melakukan kegiatan belajar. Belajar adalah kegiatan utama, kegiatan penting, (meski sebagian ada yang menganggap sebagai kegiatan sampingan). Bagi Mahasiswa/i, tentu secara lisan akan mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan utamanya. Banyak pula Mahasiswa/i yang menyibukkan diri ke dalam berbagai aktivitas demi untuk mendapatkan pengalaman, sampai-sampai lupa akan tugas belajarnya. Bagi Mahasiswa/i yang sambil kerja (apa kerja sambil kuliah?) yaaaa seperti saya, kesulitan untuk mengalokasikan waktu belajarnya. Takut pekerjaannya berantakan, akan tetapi takut pula jika nilai kuliahnya jelek.

Harapan terbaik adalah, pekerjaan kantor beres tetapi nilai kuliah juga dapat A. Semua aktivitas lancar dan dapat pengalaman banyak, tetapi juga nilai yang tercantum di KHS adalah A semua. Memang menyenangkan jika semua mata kuliah dapat nilai A, serta materi kuliah dapat dikuasai secara sempurna, dan semua itu diperoleh dengan usaha belajar secara santai. Nah, semua itu dapat saya capai (berusaha) jika saya menerapkan strategi belajar secara efektif dan efisien.

Mata kuliah Akuntansi yang saya ambil memiliki serangakain cerita, bukan dasar-dasar akuntansi saja bahkan bertambah akuntansi-akuntansi lainnya yaaa seperti Pengantar Akuntansi, Akuntansi Biaya, Akuntansi Keuangan Menengah, Akuntansi Keuangan Lanjutan, dan Akuntansi Manajemen, Saya dituntut memahami pengetahuan (materi kuliah) saya juga dituntut terampil melakukan penghitungan, pencatatan, atau bahkan melakukan pemecahan masalah. Jadi pada mata kuliah tersebut. Saya harus terampil melakukan/mengerjakan sesuatu. Terampil, berarti Anda harus dapat mengerjakan pekerjaan secara cepat dan benar. Karena tujuan yang seperti ini maka dalam ujian jarang ditemui soal yang menanyakan definisi, nama metode, ataupun menanyakan cara /prosedur sesuatu. Kebanyakan soal ujian untuk mata kuliah tersebut adalah kasus. saya diminta melakukan penghitungan, pencatatan (proses akuntansi), pembuatan laporan, atau bahkan pembuatan keputusan. Duhhhhhh merepotkan, bisa terbayang kan gimana repotnya, yaaaa tapi itu semua saya lakukan demi saya dan demi masa depan saya.
Seiring waktu yang terus berjalan, sekarang saya sudah semester IV (empat) kerasa juga lelah, letihnya kuliah sambil kerja! Tapi semua itu saya lakukan dengan enjoy walau bentrok dengan kerjaan di kantor.

Rabu, 28 Mei 2008

Kuliah Sambil Kerja, Why Not?

BeLajAR daN KerJA!

Tuntutan dan persaingan dalam dunia kerja di Indonesia (khususnya di Batam) saat ini semakin berat. Banyaknya pencari kerja tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Bila lapangan kerja itu tersedia, seringkali tidak memberikan kesejahteraan yang diimpikan.


Penyebabnya antara lain gaji yang hanya sedikit di atas Upah Minimum serta makin tidak berharganya nilai sebuah ijazah. Jangankan hanya mengandalkan ijazah SMA, pencari kerja dengan ijazah Strata satu (S1) pun saat ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Lulusan SMA paling hanya dapat menduduki posisi waitress, kasir, atau posisi administrasi umum dan supervisor bagi mereka yang sangat beruntung. Begitu pula dengan lulusan SMK. Contohnya adalah saya sendiri. Saya adalah lulusan smk jurusan Akuntansi di salah satu SMK Swasta Batam (SMK HARMONI). Sejak dahulu saya bercita-cita bekerja di bank. Oleh karena itulah saya mengambil jurusan Akuntansi. Ternyata setelah lulus, syarat minimal haruslah mempunyai gelar S1. Pupuslah sudah harapan saya menjadi karyawan bank dengan modal ijazah SMK. Tak lama selang dari itu, saya bertemu dengan beberapa senior-senior yang baru menyelesaikan pendidikan S1-nya pun mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan impian. Selain terbentur masalah serangkaian tes masuk kerja yang amat berat, posisi dan gaji yang ditawarkan pun seringkali tidak sesuai dengan keinginan.

Untuk memenangkan persaingan tersebut, tenaga kerja dituntut untuk memiliki kelebihan, baik dari segi skill (keterampilan) maupun pengalaman. Salah satu cara yang banyak ditempuh oleh para pekerja adalah mengambil kuliah lagi di sela-sela waktu kerja mereka, dengan harapan, dengan pendidikan yang semakin tinggi, dapat membuat mereka memperoleh jabatan / posisi dan gaji yang lebih baik. Apalagi di Indonesia yang sekarang ini masih sangat berorientasi pada pendidikan dan ijazah formal.

Pertanyaannya adalah, kuliah sambil kerja, apakah mungkin? Jadwal kuliah yang padat ditambah dengan tugas-tugas kuliah yang seabreg, membuat para karyawan berpikir seribu kali untuk mengambil kuliah lagi.

Bagi mereka yang bekerja di instansi pemerintah, mungkin lebih mudah mengatur waktu karena jam kerja yang tetap dan lebih fleksibel. Tetapi bagi mereka yang bekerja di instansi swasta, ketatnya jam kerja dan adanya jam kerja tambahan atau lembur menjadi masalah utama. Belum lagi sikap banyak perusahaan yang tidak mau karyawannya mengambil kuliah karena khawatir akan mengganggu kerja, yang berujung pada kerugian perusahaan. Maka untuk menunjang karier, ada sebagian orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan kuliah sambil bekerja.

Beruntung bagi saya, karyawan kontrak sebuah BUMN Telekomunikasi yang melanjutkan kuliahnya mengambil S1 Akuntansi Falkultas Ekonomi Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA). Atasan saya sangat kooperatif memberikan dispensasi pulang cepat bila sedang ada ujian. Atasan Saya sangat mendukung karyawannya yang ingin mengembangkan diri, sehingga di kantornya banyak sekali karyawan yang memutuskan untuk kuliah lagi.

Lalu bagaimana membagi waktu, tenaga, dan pikiran antara pekerjaan dan kuliah? Memang terasa amat sulit. Begitu jam kantor selesai saya harus cepat-cepat pergi ke kampus agar tidak terlambat. Apalagi jarak antara kantor dan kampusnya lumayan jauh kurang lebih 10 Km. Bila ada kuis atau ujian, saya mencuri-curi waktu di sela-sela pekerjaannya untuk sekedar membaca bahan kuliah. Di kelas, dengan tenaga dan pikiran yang tersisa dan cukup melelahkan, saya pun mencoba untuk berkonsentrasi penuh pada penjelasan dosen. Setelah sampai di rumah, walaupun badan terasa lelah dan mengantuk, saya berusaha menyisihkan waktu untuk mengulang kembali apa yang diajarkan dosen di kelas. Belum lagi tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan, yang juga membutuhkan waktu dan tenaga.

Dengan kondisi demikian, hanya sedikit orang yang dapat me-manage waktunya dengan sangat baik sehingga ia sukses dalam karier dan kuliah. Melepas pekerjaan demi mengejar sukses kuliah bukanlah pilihan yang bijak, karena banyak yang menggunakan gaji dari pekerjaan yang sekarang untuk membayar atau paling tidak meringankan biaya kuliah.

Selain waktu, kendala lain yang paling klasik yang dihadapi oleh pekerja yang mengambil kuliah lagi adalah masalah uang. Demi membayar uang kuliah dan membeli buku-buku yang sekarang ini semakin mahal, mereka harus mengorbankan keinginan-keinginan untuk bersenang-senang dan membeli barang-barang yang mereka inginkan. Belum lagi jika sudah berkeluarga, tentu lebih banyak lagi hal-hal yang membutuhkan perhatian. Seperti salah satu teman saya yang harus memilih antara mengikuti ujian akhir atau menemani istrinya yang melahirkan.

Meskipun tampaknya konsekuensi yang harus dijalani begitu berat, namun tetap tidak menyurutkan semangat banyak orang untuk kuliah sambil kerja. Karena semua itu semata-mata demi cita-cita serta pengembangan kualitas pribadi. Selain itu banyak pula kelebihan yang dimiliki mereka yang kuliah sambil kerja. Selain pendidikan yang lebih tinggi, soal pengalaman kerja pun tidak usah diragukan lagi, sehingga lebih mudah mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Tantangan dan kesulitan pun tidak lagi dirasa berat apalagi bagi mereka yang berprinsip kesuksesan akan dicapai melalui kerja keras dan pengorbanan.